Di Kelenteng ini Raja Semut Bersemayam untuk Menjaga Kota

Written by
Hiomerah – Dewa utama kelenteng ini memang Kongco Kong Tik Cun Ong. Tapi orang-orang lebih mengenalnya sebagai persemayaman Raja Semut. Kesuksesan dagang pun sering dimintakan padanya.

Bentuknya seperti batu besar berwarna hitam yang menempel pada dinding tembok. Namun bila dicermati, gundukan itu tersusun dari tanah atau remah-remah mirip abu. Selembar kain merah menyelimuti ujung atas gundukan. Kain merah yang lebih besar juga menaungi gundukan itu, seperti sebuah tenda.

Sebuah lampu merah kecil menerangi gundukan yang berada di sudut ruangan itu. Dua lampu berwarna sama, berada di atas sebuah meja di depan gundukan. Lampu-lampu ini mengapit hiolo kecil, tempat 3 buah hioswa tertancap di dalamnya. Sebuah papan nama kecil terpampang di dekat tempat abu. “Gia Ong (Raja Semut)”, demikian bunyi tulisan di papan nama itu.

Raja Semut menjadi salah satu dewa yang dipuja di Kelenteng Hok Yoe Kiong, Nganjuk, Jawa-Timur. Orang mengenal kelenteng yang terletak di kota kecamatan Sukomoro itu sebagai rumahnya. Konon, Gia Ong pernah menyelamatkan warga Sukomoro dari bencana banjir puluhan tahun lalu.

Altar Gia Ong berupa gundukan tanah yang sekilas mirip batu hitam. (Foto: hiomerah).

“Raja Semut ini memang diyakini menjadi penjaga daerah ini. Jadi semacam punden di sini, Mas,” kata Suliswanuhwantoro, biokong Kelenteng Hok Yoe Kiong.

Bermacam berkah pun diharapkan oleh umat kelenteng dari Sang Raja Semut. Menurut Suliswanuhwantoro, altar Gia Ong banyak didatangi oleh mereka yang ingin mendapatkan kesuksesan usaha.

“Kalau yang ingin memajukan usahanya, biasanya memang ke Gia Ong,” ungkap laki-laki yang akrab dipanggil Wawan itu.

Raja Semut dipercaya berdiam di gundukan tanah mirip batu hitam di atas. Gundukan yang sebenarnya adalah rumah koloni serangga kecil mirip semut atau rayap ini lebih dulu ada dibanding kelentengnya.

Lokasi kelenteng dulunya adalah sebuah pabrik kopi milik seorang pengusaha asal Nganjuk, Soen Boen Lee. Bekas-bekas pabrik ini masih bisa dilihat sampai sekarang, salah satunya cerobong asap di depan kelenteng. Oleh kelenteng, cerobong ini direnovasi sedemikian rupa; dicat merah dan dihias dengan lilitan patung naga.

Ruang utama Kelenteng Hok Yoe Kiong tempat altar Kongco Kong Tik Cun Ong berada. (Foto: hiomerah).

Asal mula Kelenteng Hok Yoe Kiong sebenarnya berawal dari tempat peribadatan pribadi milik Soen Boen Lee. Di rumahnya di Kota Nganjuk, ia memelihara kimsin Kongco Kong Tik Cun Ong, yang dibawanya dari tanah leluhur. Pada perkembangannya, kimsin ini mampu menarik orang banyak untuk ikut bersembahyang di rumah Soen Boen Lee.

Karena semakin banyak yang bersembahyang, muncul ide untuk memindahkan kimsin ke tempat lebih luas. Bekas pabrik kopi milik Soen Boen Lee di Sukomoro menjadi pilihan dan diresmikan menjadi Kelenteng Hok Yoe King pada 1950-an. Saat kelenteng didirikan, gundukan rumah semut sudah berada di sana.

Kelenteng Hok Yoe Kiong memiliki dua kiemlo atau tempat pembakaran kertas uang berbentuk pagoda. Dua naga berebut bola dunia menghias dua bagian atap kelenteng, depan dan belakang.

Memasuki beranda, dua patung singa menyambut di kiri dan kanan. Di beranda juga berdiri patung enam jenderal, seakan menjaga kelenteng dari tamu-tamu tak diundang. Mereka adalah Jenderal Ma, Jenderal Thio, dan Letjen Oei di sebelah kiri, serta Jenderal Ong, Jenderal Tio, dan Jenderal Tan di kanan.

Dua dari 6 patung jenderal di beranda kelenteng siap ‘menghadang tamu tak diundang’. (Foto: hiomerah).

Sebuah bedug dan lonceng tua menjadi daya tarik terakhir sebelum masuk ke ruang utama tempat Kongco Kong Tik Cun Ong bersinggasana.

Selain Gia Ong, kimsin Kongco Kong Tik Cun Ong menjadi magnet tempat peribadatan yang berada di pinggir jalan utama Jombang – Nganjuk ini. Kimsinnya menempati altar utama, yang letaknya berada di sebelah kanan altar Gia Ong.

Arca suci Kong Tik Cun Ong menjadi satu-satunya kimsin yang ada di ruangan itu. Di depan altarnya, banyak umat yang berdoa dan memohon berbagai berkah, mulai perjodohan hingga minta kesembuhan.

“Banyak yang permohonannya dikabulkan di sini,” ungkap Wawan. HK

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares