Dewi Kwan Im Majapahit di Kelenteng Pamekasan ini Pernah Tak Terangkat oleh Katrol

Written by
HiomerahVihara ini menjadi rumah arca suci Dewi Kwan Im yang tampil seperti putri-putri Majapahit. Pernah tak bisa diangkat meski menggunakan katrol dan tenaga 20 orang.

Vihara Avalokitesvara memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki vihara-vihara lain di Indonesia. Pertama, tempat ibadah umat Buddha yang juga sering disebut Kelenteng Pamekasan ini, menjadi simbol sikap toleransi antar umat beragama.

Meski sudah berumur ratusan tahun, tempat pemujaan Dewi Kwan Im ini masih sangat terpelihara. Padahal vihara yang berlokasi di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, Madura, ini, berada di tengah-tengah masyarakat penganut fanatik Agama Islam.

Seorang umat sedang bersembahyang di pura yang terletak di komplek vihara sebelah kanan.

Semangat toleransi justru sangat mengemuka dengan adanya mushola di pelataran vihara. Juga sebuah pura, tempat peribadatan umat Hindu, yang berada di depan vihara. Nuansa Bali juga terlihat pada bangunan gapura yang menjadi pintu masuk vihara.

Tidak hanya lewat bangunan-bangunan itu, dalam beberapa perayaan yang berhubungan dengan tradisi Budha maupun tradisi Tionghoa, vihara ini juga sering melibatkan penduduk sekitar.

Keistimewaan kedua berhubungan dengan syarat agar sebuah tempat ibadat layak disebut sebagai vihara. Untuk bisa disebut vihara, sebuah tempat peribadatan harus memiliki paling tidak 5 bagian; Dhamasala, Kuti, Arama, Dharmaklas, dan tempat meditasi.

“Vihara Avalokitesvara mempunyai semua syarat tersebut,” ungkap Ketua Vihara Alokitesvara, Kosala Mahinda.

Dammasala adalah tempat untuk bersembahyang, Kuti adalah tempat tinggal para biksu, Arama adalah asrama untuk para siswa yang sedang belajar di vihara tersebut, Dammaklas sebagai ruangan belajar para siswa, dan ruang meditasi untuk bermeditasi atau bersamadi.

Bahkan tidak hanya lima bagian tersebut, Vihara Avalokitesvara juga memiliki beberapa bangunan yang semakin melengkapi keberadaannya sebagai sebuah vihara.

Vihara Avalokitesvara menjadi jujugan banyak orang yang ingin mendapat berkah Dewi Kwan Im.

Bangunan-bangunan itu antara lain aula yang terletak di belakang vihara sebagai ruang pertemuan antar umat Budha, biksu, dan biksuni yang dipimpin oleh upasaka.

Juga sebuah pendopo yang terletak di depan gedung induk. Pendopo ini biasanya digunakan sebagai tempat upacara-upacara dan pertunjukan wayang kulit.

Menjadi keistimewaan utama vihara bercat merah-kuning ini adalah adanya beberapa arca peninggalan Kerajaan Majapahit. Sebuah arca Dewi Kwan Im atau Avalokitesvara Bodhisatva versi Majapahit dan tiga arca Sam Po Hud.

Perwujudan Avalokitesvara pada arca tersebut berbeda dengan sosok Dewi Kwan Im umumnya. Dia tampil seperti gambaran putri-putri kerajaan di Jawa masa lalu, memakai pakaian kebesaran beserta mahkotanya.

“Ia lebih dekat dengan gambaran Ratu Tribuwana Tunggadewi, raja perempuan Majapahit. Mungkin Tribuwana dianggap sebagai manusia yang sudah mencapai taraf kesempurnaan,” jelas Kosala.

Arca Sam Po Hud – yang menurut keyakinan Agama Buddha adalah Buddha-Buddha yang tidak akan turun ke dunia – juga sangat kental sentuhan Majapahitnya. Salah satu arca mempunyai sikap tangan yang tidak mencerminkan lima sikap Mudra dalam Dyani Budha.

Selain hal-hal di atas, Vihara Avalokitesvara juga banyak menyimpan cerita mistis. Antara lain saat arca Avalokitesvara akan diangkat dari timbunan tanah ke posisinya yang sekarang.

Arca Dewi Kwan Im ala Majapahit ini konon pernah tak bisa diangkat meski dengan katrol dan tenaga 20 orang.

Waktu itu, sekitar 1967, Tan Tik Sian, seorang warga Surabaya, seijin pengurus vihara, meminta seorang seniman, D. Soebali, untuk mengangkat dan memperbaiki arca tersebut. Menurut rencana, arca berukuran tinggi 155 cm, tebal tengah 36 cm, dan tebal bawah 59 cm ini, akan dinaikkan sekitar 1 meter di atas lantai.

Namun aneh, meski sudah menggunakan katrol dan dibantu 20 orang, arca hanya mampu terangkat ke atas lantai saja. Ajaibnya, 20 tahun kemudian, hanya dengan 3 orang, patung ini bisa terangkat hingga pada posisinya yang sekarang, 1 meter di atas lantai.

Vihara Avalokitesvara dibangun sekitar awal 1900-an, saat sebuah keluarga Tionghoa berhasil membeli tanah di mana arca-arca itu ditemukan. Patung yang oleh ahli diperkirakan peninggalan Majapahit tersebut kemudian dibuatkan cungkup dengan atap daun kelapa.

Menurut beberapa sumber, arca-arca tersebut adalah kiriman Majapahit untuk pembangunan candi di Kerajaan Jamburingin. Sebuah kerajaan kecil yang diperkirakan lokasinya di Kecamatan Proppo, Pamekasan, sekarang.

Namun arca-arca tersebut tidak pernah sampai di tujuan. Penduduk dan para pekerja hanya mampu mengangkatnya beberapa meter dari tempat pendaratan, Pantai Talang.

Kemudian diputuskan untuk membangun candi di tempat pendaratan tersebut, namun ini juga tidak terlaksana seiring masuknya Agama Islam. Akhirnya arca-arca tersebut ditinggalkan.

Beberapa bhiksu memimpin sebuah ritual saat Vihara Avalokitesvara merayakan Hari Kesempurnaan Dewi Kwan Im beberapa waktu lalu.

Sekitar 1800 M, arca-arca tersebut ditemukan, dan sangat menarik pemerintah Belanda. Hingga mengutus Bupati Pamekasan, Raden Abdul Latief Palgunadi (Panembahan Mangkuadiningrat I, 1804-1842 M), untuk memindahkan arca-arca itu ke kadipaten.

Karena peralatan yang sangat terbatas, pemindahan itupun gagal. Maka arca-arca itu tetap dibiarkan merana di tempatnya, hingga ditemukan kembali oleh keluarga Tionghoa di atas. HK

 

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares