Dewa Dayak dan Melayu dalam Perayaan Capgomeh di Singkawang

Written by
Hiomerah – Sebelum pandemi Covid-19 melanda, perayaan capgomeh di ‘kota seribu pekong’ Singkawang selalu meriah. Perayaan yang unik dan menarik, dengan tatung-tatung yang kerasukan roh-roh Dayak dan Melayu.

Matahari belum benar-benar lepas dari peraduan ketika tandu-tandu yang semula tergeletak di depan Cetya Chau Lui Nyam Sai diusung menuju Stadion Kridasana. Tandu-tandu tersebut telah dihias sedemikian rupa, lengkap dengan bendera kecil warna-warni dan pisau-pisau tajam.

Di depan pintu stadion, tandu-tandu berhenti, menunggu sosok-sosok sakti yang akan menaikinya. Sosok-sosok sakti tersebut adalah sembilan tatung atau louya yang juga berangkat dari pekong (kelenteng) di kawasan Jalan Yos Sudarso itu.

Mereka adalah Bong Ten Feng beserta ayah dan kerabatnya; Bong Khin Djung, Antoni, Hendi Fran Wong, Cong Pin Pin, Stevan Wong, Rudi, Hengki, dan Afui. Sementara di dalam stadion kebanggaan warga Singkawang itu, telah berkumpul puluhan tatung dengan tandunya masing-masing.

Dengan panji-panji beraneka warna ratusan tatung berkumpul di stadion sebelum berkeliling kota.

Seiring naiknya matahari, tatung-tatung yang masuk ke dalam stadion bertambah banyak. Minggu pagi yang bertepatan dengan tanggal 15 bulan pertama Imlek itu, Stadion Kridasana dipenuhi oleh ratusan tatung serta ribuan pengiringnya.

Dari pintu masuk, mereka diusung dengan tandu, diiringi tabuhan tambur dan simbal, menuju tempatnya masing-masing. Bermacam riasan muka dan pakaian yang mereka kenakan menambah kegagahan dan keangkerannya. 

Di dalam stadion, ribuan panji-panji warna-warni berhuruf kanji Tiongkok, berkibar-kibar bersama ratusan bendera merah putih. Ada pula spanduk-spanduk yang menjelaskan nama dan asal seorang tatung atau pekongnya.

Dari jarak dekat, panji-panji, bendera, spanduk, juga tatung-tatung di atas tandu, seakan berlomba tinggi dengan Gunung Sari yang menjulang di pinggir kota.

Saat masih berkumpul di dalam stadion itu, Bong Ten Feng dan ratusan tatung lainnya, mulai menunjukkan kesaktiannya  masing-masing. Berdiri di atas pecahan kaca atau sisi tajam pisau, bahkan menusuk-nusukkannya ke sekujur bagian tubuh tanpa cedera sedikitpun.

Kesaktian tatung muncul saat kesurupan ditandai dengan mata terbalik, bahkan sampai hanya terlihat putihnya.

Ada pula yang menusukkan besi-besi seukuran jeruji sepeda, tembus pipi kanan ke pipi kiri tanpa mengeluarkan darah setetespun. Pamer kesaktian terus berlanjut saat mereka berpawai mengelilingi kota.

Pemandangan yang mirip film-film kungfu kolosal buatan sineas-sineas Hongkong tersebut, disaksikan wartawan media ini saat meliput perayaan capgomeh di Singkawang beberapa waktu lalu.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, perayaan capgomeh setiap tanggal 15 bulan pertama Imlek, juga dikenal dengan ‘perayaan lentera’, shang yuan, atau xiao guo nian (tahun baru kecil).

Konon perayaan ini bermula pada masa pemerintahan Kaisar Wu Di dari Dinasti Han. Saat itu, setiap tanggal 15 bulan pertama Imlek menjadi sebuah hari berkumpulnya keluarga serta kehidupan yang bahagia.

Dalam perkembangannya, capgomeh memiliki arti dimulainya putaran kehidupan baru. Capgomeh menjadi saat yang suci bagi warga Tionghoa untuk memulai kehidupan dari nol. Karena dua minggu sebelumnya, saat merayakan Imlek, segala pengampunan mereka terima dari Tuhan.

Tatung cilik dan perempuan juga ikut meramaikan perayaan capgomeh di Singkawang.

Seperti di negeri asalnya, warga keturunan Tionghoa di seluruh penjuru dunia juga merayakannya, tak terkecuali di Indonesia. Namun bila dibandingkan, perayaan capgomeh di Singkawang lah yang paling meriah sekaligus unik.

“Upacara capgomeh di Singkawang merupakan yang terunik di dunia, karena sudah bercampur dengan tradisi Dayak dan Melayu, yang memasukkan unsur Datuk dan Jenderal di dalamnya,” demikian ucap seorang peneliti budaya Tionghoa asal Singapura, Dr. Margaret Chan.

Pernyataan Dr Margaret mengacu pada sosok-sosok tatung yang menjadi ciri khas perayaan capgomeh di Singkawang. Tatung atau louya adalah orang-orang sakti, semacam dukun di Jawa, yang dipercaya mampu mengusir roh-roh jahat.

Di hari capgomeh yang diyakini sebagai titik awal untuk memulai segala aktivitas, semua roh dan anasir jahat yang akan mengganggu harus dihilangkan. Tatung atau louya dipercaya untuk melakukan pengusiran itu agar kehidupan masyarakat tidak diganggu.

“Bila di sepanjang jalan, tatung-tatung menunjukkan atraksi kesaktian, itu sebagai perwujudan bahwa mereka adalah orang-orang sakti yang berkemampuan menangkal gangguan roh-roh jahat,” jelas Bong Cin Nen, salah satu tokoh Tionghoa Singkawang.

Para tatung ditandu keliling kota untuk menangkal gangguan roh-roh jahat.

Pamer kesaktian memang menjadi inti ritual saat tatung-tatung berarak mengelilingi jalan-jalan di kota tersebut. Sebagai bagian ritual membersihkan kota, para tatung juga memercikkan air dan beras yang sudah diberi doa ke khalayak.

Seorang tatung menunjukkan kesaktiannya saat dirinya in trance, kesurupan. Ciri-ciri tatung sedang kesurupan adalah mata terus melihat ke atas, seolah bola mata terbalik, seringkali hanya terlihat bagian putihnya.

Saat in trance, seorang tatung dirasuki oleh roh atau arwah yang mereka sebut guru. Uniknya, meski kebanyakan tatung-tatung itu adalah orang Tionghoa, tidak semua roh guru yang merasuk berasal dari etnis tersebut.

“Ada pula roh leluhur atau danyang sakti menurut kepercayaan Melayu dan Dayak, seperti roh yang disebut sebagai Datuk Tiga Bujang,” ungkap Ng Bui Fan, salah satu tatung.

Perayaan capgomeh di Singkawang, khususnya keberadaan tatung, memang sangat kental dengan perpaduan budaya. Ini karena sejarahnya yang cukup lama, sejak Dinasti Song (960-1279 Masehi).

Pada masa itu, orang Tionghoa sudah mengadakan kontak, bahkan bermukim di Kalimantan. Puncaknya terjadi pada abad ke-18, ketika terjadi gelombang kedatangan secara besar-besaran.

Pamer kesaktian untuk menunjukkan bahwa mereka orang sakti yang mampu mengusir roh jahat.

Ribuan orang tersebut datang karena memang diundang oleh Sultan Sambas maupun Panembahan Mempawah untuk membuka pertambangan emas di Monterado dan Mandor. Mereka membawa serta kultur  dan religi dari tanah leluhurnya, meski kemudian hari juga banyak dipengaruhi budaya lokal.

“Salah satunya adalah perayaan capgomeh, dan ritual arak-arakan tatung yang meriah, yang pada awalnya diselenggarakan untuk membersihkan lingkungan kota dari wabah penyakit yang disebabkan oleh pengaruh roh-roh jahat,” ucap Hasan Karman, walikota Singkawang saat itu. HK.

 

 

 

 

 

 

1 2 3 4 5

Article Tags:
Article Categories:
Warna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares