David Kwa, Sang Gudang Ilmu Tionghoa itu Telah Tiada

Written by
HiomerahHari ini saya begitu terkejut. Saat membuka facebook ada kabar duka di sana. Halaman tjersildotcom mengabarkan bahwa David Kwa meninggal dunia. Saya terlambat 2 hari mengetahuinya.

Saya tidak mengenal langsung peneliti dan pengamat budaya Tionghoa ini. Sebatas ‘friend’ di facebook. Komunikasi pun hanya dengan berbalas komen di media sosial itu. Atau saya kirim pesan di inbox bila ada sesuatu yang saya tanyakan.

Saya tahu kalau ia sangat menguasai bahasan mengenai budaya Tionghoa. Mulai bentuk budaya hingga filosofinya. Mulai Cina Benteng hingga makna warna merah dalam perayaan Imlek.

Banyak pemikirannya saya kutip untuk tulisan-tulisan saya. Waktu itu saya masih menjadi wartawan Majalah Liberty. Sebagian besar tulisan saya tentang sejarah dan budaya Tionghoa yang dimuat dalam rubrik ‘Pecinan’.

Papan duka yang mengabarkan kapan David Kwa meninggal dunia dan kapan dikremasi. (Foto: istimewa).

Ada rencana membukukan liputan saya tentang kelenteng-kelenteng di sepanjang pantai utara Jawa. Tapi sebelumnya saya ingin mendapat tambahan pengetahuan dari orang yang ahli dalam budaya Tionghoa.

Terutama orang yang paham tentang bangunan dan arsitektur kelenteng, juga dewa-dewa di dalamnya. David Kwa yang ingin saya temui. Beberapa teman juga merekomendasikan namanya.

Keinginan itu pupus hari ini. Termasuk keinginan menjadikannya narasumber dan teman diskusi untuk hiomerah nanti.

Pak David, demikian saya menyapanya, meninggal dunia Senin (7/9) lalu, dalam usia 63 tahun. Pukul 10.00 WIB hari ini jenazahnya telah dikremasi. Semoga arwahnya lancar menuju ke rumah Tuhan dan mendapatkan kebahagiaan abadi di sana. Amin.

David Kwa dikenal oleh koleganya sebagai pribadi yang antusias terhadap yang ia cintai, terutama berkaitan budaya Tionghoa. (Foto: istimewa).

Meski sudah dikremasi, pikiran saya mengenai Pak David belum berhenti. Saya hubungi beberapa teman yang pernah berhubungan maupun bekerjasama dengan dia. Saya tanyakan kesan-kesan mereka mengenai pemilik nama Kwa Kian Hauw itu.

“Orang luar biasa itu. Dia mau berjuang untuk mempertahankan budaya Tionghoa,” kata The Han Tong, seorang teman yang menjadi pengurus di Kelenteng Parakan, Jawa-Tengah.

“Orangnya diam. Tapi ilmunya segudang tentang Tionghoa,” ungkap Ardian Purwoseputro, penulis muda dari Blitar.

Low profile dan kalau mengerjakan segala sesuatu itu tuntas dan detail. David sanggup menjabarkan sesuatu yang bersifat umum menjadi detail dan membuka pengetahuan baru,” imbuhnya.

Foto dan peti mati David Kwa beserta aneka sesembahan sebelum dikremasi. (Foto: istimewa).

Ardian pernah bekerjasama dengan David saat menulis buku ‘Wayang Potehi of Java’.  David menjadi penyuntingnya. Banyak tambahan pengetahuan diperoleh Ardian dari David saat kerjasama ini.

“Ada banyak hal yang awalnya tidak tahu jadi tahu. Beliau menambahkan informasi-informasi melampaui apa yang beliau edit,” kata Ardian.

Menurut Ardian, David memiliki pribadi yang sederhana dan rendah hati. Ia siap membantu siapapun dan apapun yang berkaitan dengan bahasan mengenai Tionghoa. Laki-laki kelahiran 20 Nopember 1956 itu juga antusias terhadap sesuatu yang ia cintai.

“Dalam kondisi sakit, masih sering datang ke acara-acara yang berbau seni budaya dan akademis,” tutup Ardian. HK

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Sosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares