Chie Shiauw Foe, Pendekar Kungfu dari Semarang yang Ahli Berbagai Senjata

Written by
Hiomerah – Merupakan pendekar kungfu beraliran utara, Chie Shiauw Foe dikenal lihai memainkan bermacam senjata. Terutama shen piauw, tali panjang berujung besi tajam.

Chie Shiauw Foe adalah salah satu pendekar yang pernah malang-melintang di dunia kunthauw di Pulau Jawa. Dia dikenal dengan keahliannya memainkan ‘shen piauw’, senjata tali yang ujungnya berupa besi tajam.

Lahir di Shantung, Tiongkok pada 1895, Shiauw Foe sempat menjadi tentara sebelum desersi dan merantau ke Nusantara. Menumpang kapal ‘Tjiwangi’, dia tiba di Batavia dalam usia 30 tahun.

Di kota ini dia membuka perguruan kungfu bersama Ong Tjie Tjioe, kakak seperguruannya. Sebuah perguruan kecil di bawah payung Shantung Khong Hwe, perkumpulan primordial bagi perantau dari daerah asalnya.

Chie Tjioe Ming sedang mempraktekkan salah satu gerakan kungfu yang diwarisinya dari Chie Shiauw Foe.

Menularkan ilmu kungfu yang dipelajarinya dari beberapa perguruan di kawasan utara Tiongkok, Shiauw Foe tidak hanya berdiam di Batavia. Sambil mempraktekkan keahliannya yang lain, pengobatan patah tulang dan tenaga dalam, dia berkeliling ke daerah-daerah di Jawa Barat. Tasikmalaya, Garut, Bandung, Cirebon, dan kota-kota lain, dia datangi, mondar-mandir dari Batavia.

“Pada masa-masa akhir penjajahan Belanda dia pindah ke Tegal, membuka perguruan kungfu juga,” jelas Chie Tjioe Ming, putra angkat Chie Shiauw Foe, saat ditemui di tempat tinggalnya, kawasan Lontar, Surabaya, beberapa waktu lalu.

Pemain Sirkus

Di Tegal dia mengajar kungfu di Kelenteng Tek Hay Kiong. Juga di sebuah rumah di Peweden, kepunyaan murid pertamanya di kota ini, Oei Pek Siong.

Menurut Danny Irwanto, salah satu murid Chie Shiauw Foe, Pek Siong sebelumnya sempat ‘mencoba’ kedigdayaan Shiauw Foe. Kalah, Pek Siong yang menguasai ilmu-ilmu kungfu aliran selatan, akhirnya justru minta dijadikan murid.

Untuk mengajar kungfu dan praktek pengobatan, tempat-tempat sekitar Kota Tegal dia datangi, seperti Slawi dan Adiwerna. Saat tinggal di Tegal ini, dia juga berhasil mempersunting Thio In Nio, perempuan asal Brebes.

“Di Tiongkok sebenarnya dia telah  mempunyai istri dan seorang anak. Nama anaknya itu Chie Ming Tang,” ungkap Tjioe Ming yang memiliki nama Indonesia Manat Wijaya.

Kelenteng Tek Hay Kiong, di tempat ini Chie Shiauw Foe mengajar kungfu saat tinggal di Tegal.

Tak lama tinggal di Tegal, Chie Shiauw Foe yang telah berkeluarga pindah ke Semarang. Awalnya menempati rumah sewa di kawasan Ambengan, kemudian menyewa lagi sebuah rumah yang lebih besar di Kampung Pederesan Kecil.

Rumah tersebut adalah milik Liem Bo Lin, seorang tuan tanah yang tinggal di Petudungan. Halaman rumah di Pederesan yang lumayan luas digunakannya untuk melatih kungfu.

Modal keahliannya memainkan jurus-jurus kungfu, juga membuatnya bisa bergabung dalam sebuah kelompok sirkus. Berada di perkumpulan hiburan ini, dia kerap berkeliling di kota-kota di Jawa Tengah.

Saat pentas di Cilacap, dia bertemu dengan Fong Yoe Tie, teman sedesanya di Shantung.  Yoe Tie kebetulan memiliki seorang anak angkat yang menarik perhatian Chie Shiauw Foe. Mungkin karena Chie Pauw Kwi, putranya, meninggal dunia.

Dimintanya anak laki-laki itu, dan kemudian diberinya nama Chie Tjioe Ming, yang sekarang menjadi penerus ilmu-ilmu kungfunya. Pengesahan Tjioe Ming sebagai anak dilakukan lewat satu upacara di sebuah hotel di Magelang.

Setelah mengangkat anak Tjioe Ming, Chie Shiauw Foe tidak lagi ikut sirkus keliling. Dia lebih berkonsentrasi melatih kungfu, serta praktek pengobatan tenaga dalam dan patah tulang.

Kampung Pederesen Kecil, di kampung ini Chie Shiauf Foe terakhir tinggal dan membuka perguruan kungfu.

Ada sekitar lima belas murid yang rajin berlatih di Pederesan, termasuk Tjioe Ming. Murid lainnya adalah Danny yang memiliki nama Tionghoa, Hoo Ing Hwa.  Keterlibatan laki-laki asal Temanggung ini dalam latihan kungfu Chie Shiauw Foe bisa dibilang terjadi secara tidak sengaja.

Sekitar 1966, Danny yang bekerja di sebuah pabrik di kawasan Kebon Laut, Semarang, bertemu dengan Untung, tetangganya di Temanggung. Untung adalah suami Chie Tjwan Tjoe, anak perempuan Chie Shiauw Foe.

Para Pewaris

Sering berkunjung ke Pederesan Kecil, tempat Untung tinggal bersama istri dan mertuanya, akhirnya membuat Danny tertarik ikut berlatih kungfu.

“Gara-gara sering ke Pederesan, dan melihat latihan kungfu di sana, akhirnya tertarik juga ikut latihan,” kata Danny.

Danny masih ingat betul bagaimana lihainya Chie Shiauw Foe memainkan bermacam senjata, mulai toya, golok besar (sering disebut golok Kwan Kong), cemeti, rantai panjang, hingga shen piauw.

Namun bukan hanya kungfu Chie Shiauw Foe yang membuatnya tertarik, hatinya pun kecantol dengan salah satu cucu sang pendekar. Dia adalah Chie Sui Ing, yang tak lain adalah putri dari Chie Tjioe Ming. Perempuan yang sekarang telah almarhumah itu dinikahinya, yang kemudian memberikan beberapa anak dan cucu.

Salah satu pewaris ilmu kungfu Chie Shiauw Foe, Danny Irwanto, yang membuka pengobatan patah tulang di Semarang.

Tak lama kesempatan Danny menimba ilmu langsung dari Chie Shiauw Foe. Pada 31 Oktober 1972, pendekar kungfu dari Shantung yang menguasai bermacam senjata itu meninggal dunia. Namun ilmunya tetap ada sampai saat ini, bermanfaat bagi banyak orang yang membutuhkan pengobatan maupun kesehatan dari olah kungfunya.

Ilmu pengobatan patah tulang dan tenaga dalam diteruskan oleh Danny yang membuka praktek di kawasan Tanah Mas, Semarang. Sementara Wijaya mengajarkan jurus-jurus kungfu warisan Chie Shiauw Foe di sebuah ruko di kawasan G-Walk, Surabaya, setiap Senin, Selasa, Kamis, dan Jum’at. HK.

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares