Cerita Perahu Naga Kuno di Balik Kemegahan Boen San Bio

Written by
HiomerahKemegahan sebuah kelenteng ditunjukkan oleh Kelenteng Boen San Bio. Kelenteng ini juga menyimpan perahu naga yang pertama diluncurkan di Sungai Cisadane saat perayaan Pe Cun.

Masih di dalam Kota Tangerang, berdiri satu lagi kelenteng kuno berumur ratusan tahun. Kelenteng Boen San Bio, yang dipercaya dibangun 5 tahun setelah Kelenteng Boen Tek Bio berdiri.

Melihat tempat ibadah yang juga disebut Vihara Nimmala ini, kesan pertama adalah sebuah kemegahan. Di halaman kelenteng berdiri Thian Sin Lo, tempat hio persembahyangan kepada Tuhan. Ukurannya sangat besar dan terbuat dari batu onix.

Menurut buku khusus terbitan Yayasan Vihara Nimmala, hiolo tersebut memiliki berat 4888 kilogram, dengan tinggi 120 cm, dan diameter 150 cm. 13 tahun lalu, Thian Sin Lo ini telah tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Thian Sin Lo terberat di Indonesia.

Kelenteng Boen San Bio dibangun 5 tahun setelah Kelenteng Boen Tek Bio didirikan.

Masuk ke dalam, kemegahan kelenteng ini masih terasa dengan ruang-ruang dan meja-meja altar yang indah. Di bagian paling depan ruang utama, terdapat altar kayu tempat Sam Kay Kong berada. Kemudian altar kimsin Dewa Bumi Kongco Hok Tek Cing Sin, dewa utama kelenteng ini, yang menempati ruang altar cukup luas.

Di kanan kiri ruang utama tersebut berjajar 6 altar dewa lainnya. Altar Bi Lek Hud, Kwan Im Hud Co, dan Kongco Co Su Kong beserta Pek How Pek Coa, pengawalnya, berada di sisi kiri.

Sedangkan altar Kwee Sheng Ong, Kwan Tek Kun, dan Pat Sien Kwe Hay di sisi kanan. Di ruang belakang, masih ada altar untuk Tri Nabi (Lau Tze, Sang Buddha, Nabi Khongcu), dan dewa-dewi lainnya.

Berjalan terus ke halaman belakang, kemegahan kelenteng semakin terasa ketika mata memandang bangunan megah Ruang Dhamasala. Ini adalah tempat utama bagi umat Buddha melakukan ibadah.

Tampak arca raksasa Dewi Kwan Im, berukuran tinggi sekitar 3 meter, seperti menggantung di sebelah kiri bangunan tersebut. Sebuah patung Buddha berukuran sama, terdapat di dalamnya.

Kelenteng Boen San Bio dibangun untuk menempatkan kimsin Kongco Hok Tek Cing Sin yang dibawa dari Banten.

Di dekat Ruang Dhamasala berdiri semacam gazebo yang disebut Pendopo Pe Cun. Di dalam pendopo terdapat sepasang perahu naga berwarna merah kuning. Konon dua perahu ini adalah sumbangan Oey Giok Koen, seorang tuan tanah di Tangerang.

Mengutip buku resmi kelenteng, ada kisah unik melatarbelakangi keberadaan perahu-perahu tersebut di tempat itu. Bermula ketika Giok Koen menaiki bendi di depan kelenteng tersebut, tiba-tiba roda bendi terlepas dari as-nya.

Entah bagaimana, melihat kejadian itu, Giok Koen langsung masuk ke dalam kelenteng dan bersujud memohon. Giok Koen berucap jika istrinya melahirkan anak laki-laki pada kelahiran pertamanya, dia akan mempersembahkan sepasang perahu naga untuk kelenteng.

Hari berlalu, ternyata permohonan itu dikabulkan, dengan lahirnya seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Oey Kim Toen. Sepasang perahu naga pun dia persembahkan untuk Kelenteng Boen San Bio.

Perahu naga inilah yang pertama kali diluncurkan di Sungai Cisadane saat masyarakat Tionghoa di kota ini merayakan upacara Pe Cun. Antara Kelenteng Boen San Bio dengan Sungai Cisadane yang membelah Kota Tangerang memang memiliki hubungan erat.

Selain berkaitan dengan ritual Pe Cun, dahulu posisi kelenteng menghadap langsung ke sungai tersebut. Akibat perkembangan kota, letak Kelenteng Boen San Bio dengan Sungai Cisadane sekarang dipisahkan oleh sebuah jalan yang berada di depannya, yaitu Jalan Pasar Baru.

Menurut beberapa sumber, Kelenteng Boen San Bio pada awalnya dibangun secara sangat sederhana oleh Lim Tau Koen, seorang pedagang dari Tiongkok pada 1689. Dia membangun rumah ibadah ini untuk menempatkan kimsin Kongco Hok Tek Cing Sin yang dibawanya dari Banten.

Pendopo Pe Cun untuk menghormati perahu naga yang pertama digunakan untuk merayakan Pe Cun di Sungai Cisadane.

Bangunan awal kelenteng terbuat dari tiang bambu, dinding gedek (anyaman bambu), dan beratap daun rumbia. Pengunjung kelenteng adalah orang-orang dan para pedagang Tionghoa yang tinggal dan beraktivitas di sekitar tempat tersebut.

Baru 10 tahun kemudian, umat kelenteng tersebut mendirikan sebuah perkumpulan yang mereka beri-nama Perkumpulan Boen San Bio. Kong Ek atau Perkumpulan Boen San Bio ini berjalan cukup lama hingga 1977, sebelum terbentuknya Yayasan Vihara Nimmala pada 1 Maret 1978. HK

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares