Cerita Kimsin Kwan Kong Tertua di Indonesia di Kelenteng yang Baru Dibuka Gemboknya

Written by
HiomerahKimsin Kwan Kong di Kelenteng Kwan Sing Bio konon merupakan arca Kwan Kong tertua di Indonesia. Kelenteng ini juga satu-satunya kelenteng yang memiliki simbol kepiting.

Setelah ditutup dan digembok kurang lebih 3 bulan, Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban akhirnya dibuka pada Minggu (25/10/2020). Kedua kubu pengurus kelenteng yang berseteru dan menyebabkan penutupan tempat ibadah ini, sepakat berdamai.

Pembukaan gembok disambut gembira oleh umat kelenteng terbesar di Asia Tenggara itu. Juga orang-orang yang selama ini menggantungkan hidupnya di kelenteng tersebut.

“Saya terharu, saya kan setiap hari berdoa. Jadi tadi dibuka itu rasanya saya bersyukur, karena kasihan yang kerja di sini, seperti orang jualan dan karyawan. Kan ndak ada pekerjaan kalau ndak kerja di sini,” kata Tutik Naya, pemilik kios buah-buahan di komplek Kelenteng Kwan Sing Bio kepada para wartawan.

Foto saat pembukaan gembok yang selama 3 bulan menjadi penghalang umat beribadah di Kelenteng Kwan Sing Bio.

Rasa syukur juga disampaikan Ketua Penilik Demisioner Kelenteng Kwan Sing Bio, Alim Sugiantoro. Menurut Alim, Kwan Sing Bio bukan milik pribadi, tetapi milik umat Tri Dharma. Jika saling menutup, maka akan merugikan masyarakat dan umat.

“Saya sangat gembira, ada orang-orang yang peduli, ada tokoh yang mau menyelesaikan permasalahan ini agar perdamaian segera lancar. Boleh dua kubu berselisih pendapat tapi tidak boleh mengorbankan umat,” katanya.

Orang-orang peduli yang dimaksud Alim Sugiantoro di antaranya adalah Bos Maspion Grup, Alim Markus, pemilik Kopi Kapal Api, Soedomo Mergonoto, dan pengusaha Paulus Welly Afandi. Mereka ikut andil mendamaikan pihak yang berseteru sehingga kelenteng bisa dibuka kembali.

“Bersatu jangan ada penutupan kelenteng lagi, kalau tidak kita yang menjaga, lalu siapa lagi?,” ujar Alim Markus.

Kelenteng Kwan Sing Bio ditutup sejak 28 Juli 2020. Imbasnya, umat tidak bisa bersembahyang di dalam kelenteng. Mereka terpaksa bersembahyang di trotoar atau di depan gerbang.

Menjadi kelenteng terbesar di Asia Tenggara, Kwan Sing Bio memiliki ribuan umat yang selalu datang untuk beribadah.

Imbas lainnya, ritual sembahyang bersama dalam rangka hari ulang tahun (HUT) Kongco Kwan Sing Tee Koen (Dewa Kwan Kong) ke-1860 terpaksa ditiadakan. Padahal ritual ini adalah tradisi rutin  Kelenteng Kwan Sing Bio yang ditunggu ribuan umat.

Kelenteng Kwan Sing Bio memang istimewa. Umat Tridharma di Indonesia mengenal kelenteng yang terletak di pinggir laut ini sebagai ‘pusatnya’ pemujaan Kongco Kwan Kong.

Setiap hari, kelenteng ini dikunjungi mereka yang menginginkan berkah dari Kongco Kwan Kong. Menariknya, para pengunjung tidak terbatas pada umat Tridharma saja.

Umat agama lain pun banyak berkunjung untuk mendapatkan kemudahan rejeki dan keberuntungan. Banyak dari mereka yang beragama Katholik atau Islam.

Umat sedang menyalakan lilin sembahyang di depan altar Kwan Kong yang kimsinnya tertua di Indonesia.

Keistimewaan Kelenteng Kwan Sing Bio juga terdapat pada riwayat pendiriannya yang sangat menarik. Konon, sekitar 200 tahun lalu, kimsin atau arca suci Kwan Kong yang berada di sebuah rumah pemujaan di Tambakboyo, berusaha dipindah ke tempat yang baru.

Dari tempat yang letaknya sekitar 40 kilometer dari kota Tuban tersebut, patung dibawa dengan perahu menyusuri pantai utara Jawa. Namun baru setengah perjalanan, tiba-tiba perahu itu berhenti.

Meski sekuat tenaga didayung, perahu tetap tak mau maju, hanya berputar-putar di tempat. Melihat hal ini, para pembawanya melakukan upacara pwak pwee untuk memperoleh petunjuk.

Dua belah bambu dilemparkan. Satu tengadah satu tengkurap, yang berarti roh Kwan Kong setuju kimsin-nya ditempatkan di daerah ini. Akhirnya, dibangunlah sebuah kelenteng di tempat itu sebagai rumah arca suci Kwan Kong yang sekarang disebut Kwan Sing Bio.

Kimsin Kwan Kong tersebut, konon merupakan arca Kwan Kong tertua di Indonesia. Arca ini mempunyai kekuatan gaib yang sangat kuat bila disatukan dengan kimsin-kimsin Kwan Kong yang lain.

Perayaan HUT Kongco Kwan Kong selalu menarik ribuan umat untuk ikut merayakannya.

Saat Kwan Sing Bio merayakan ulang tahun Kongco Kwan Sing Tee Koen, seringkali roh Kwan Kong hadir menemui para pemujanya. Seperti yang terjadi pada perayaan HUT Kongco ke 1842, beberapa tahun lalu. Waktu itu, roh suci (sin bing) Kwan Kong merasuki Mangku Ketut Marta, pimpinan Pura Taman Gandasari Denpasar.

Selain kimsin Kwan Kong, Kwan Sing Bio mempunyai keunikan pada ornamen kepiting yang berada di atas gerbang kelenteng. Kisah pembangunan patung kepiting ini berawal sekitar 1970 ketika ditemukan sebuah kepiting yang sangat besar di sekitar kelenteng.

“Karena waktu itu Kwan Sing Bio belum memiliki simbol, maka kedatangan kepiting ini ibarat sebuah ilham. Jadilah Kwan Sing Bio sebagai satu-satunya kelenteng bersimbol kepiting,” jelas Ketua Umum Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio, Gunawan Putra Wirawan, beberapa waktu lalu. HK

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares