Ceng Beng, Berkirim Doa Tanda Bakti Pada Leluhur

Written by
HiomerahCeng Beng. Sebuah tanda bakti kepada leluhur. Saat hari cerah dan terang, mereka berkirim doa untuk yang telah meninggal dunia.

Ditopang sebuah tongkat, Hai Thau berjalan tertatih menuju pinggiran laut di komplek Sanggar Agung, Pantai Kenjeran, Surabaya. Istri dan anak perempuannya yang mendampingi tampak membawa sekantong plastik penuh bunga tabur.

Sesaat kemudian, dengan duduk di sebuah kursi yang telah tersedia di sana, bunga-bunga itu ditaburkannya ke laut.

“Ini untuk arwah orang tua kami, juga engkong dan emak anak-anak kami, yang dimakamkan di Malang dan Nganjuk,” kata Hai Thau, laki-laki warga Surabaya, yang mengaku lahir di Kalimantan.

Bersama warga Tionghoa lain, Hai Thau sedang merayakan Ceng Beng. Sebuah tradisi bersama-sama mendoakan orang-tua, leluhur, atau sanak-saudaranya yang telah meninggal dunia.

Perayaan ini berlangsung sekitar dua puluh hari, yaitu sepuluh hari sebelum dan sesudah tanggal 4 atau 5 April. Berbeda dengan perayaan Tionghoa lainnya, Ceng Beng memang tidak dihitung berdasarkan penanggalan Imlek, melainkan berdasarkan kalender Masehi.

Masyarakat Tionghoa menempatkan penghormatan kepada orang-tua, leluhur, atau orang yang lebih tua, dalam kedudukan tinggi. Agama Khonghucu, sebagai agama leluhur mereka, mengatur ajaran moral ini dalam konsep bhakti atau hauw.

Dalam kepercayaan Tionghoa, Ceng Beng (Hokkian) atau Qing Ming (Mandarin), adalah salah satu gambaran konsep tersebut. Menurut konsep ini, setiap anak tidak dapat menyatu dengan Tuhan (Thian) bila tidak hormat kepada kedua orang-tuanya terlebih dahulu.

Seseorang dianggap tidak etis bila melakukan pai-kui atau sujud kepada orang lain. Padahal itu belum pernah dilakukan di hadapan orang tuanya atau di altar persembahyangan leluhur.

Bhakti, hauw, atau penghormatan terhadap orang-tua, diwujudkan dalam berbagai segi kehidupan. Dalam usaha atau bisnis misalnya, apa yang sudah dirintis oleh orang-tuanya akan diteruskan oleh anak-anaknya. Suatu ketika, saat usaha yang dikelola si anak sudah tumbuh besar, nasehat sang ayah akan tetap diperhatikan.

Rasa hormat kepada orang-tua terus diwujudkan sampai orang yang dihormatinya itu meninggal dunia. Mereka membangun makam orang-tuanya semegah dan semewah mungkin.

Untuk itu, bahkan mereka rela mengeluarkan dana ratusan hingga milyaran rupiah. Kemewahan ini semata-mata hanya untuk menunjukkan bhakti mereka terhadap orang-tua.

Konsep hauw tergambar jelas saat warga Tionghoa merayakan Ceng Beng. Yaitu ketika mereka bersama-sama mendoakan orang-tua, leluhur, atau sanak-saudaranya yang telah meninggal dunia.

Pada hari yang cerah (ceng) dan terang (beng), mereka mengunjungi thiong atau makam. Mereka membersihkan atau memperbaiki tempat peristirahatan terakhir orang-tua, leluhur, atau sanak-saudaranya itu.

Setelah bersih, dilakukan upacara ‘tek cua’ atau meletakkan lembaran kertas perak (gincua) dan kertas kecil berwarna putih atau kuning di atas makam. Kemudian dilanjutkan dengan sembahyang menghormati dan mengenang yang meninggal dunia dengan ritual sederhana, menyalakan lilin dan membakar dupa.

“Sebenarnya kami ingin juga datang langsung ke makam engkong dan emak. Tapi kondisi Papa tidak memungkinkan. Bunga-bunga yang kami tabur di laut ini semoga akan membawa doa-doa kami untuk arwah mereka,” jelas Chang Mei, putri Hai Thau. HK.

 

1 2

Article Tags:
Article Categories:
Warna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares