Cap Kauw King, ‘Area Aneh’ di Pecinan Semarang

Written by
HiomerahCap Kauw King adalah salah satu keunikan Pecinan Semarang. Namanya merujuk pada sembilan belas rumah di awal riwayatnya.

Pecinan Semarang selalu menghadirkan daya tarik bagi yang ingin mempelajari atau sekedar mengunjunginya. Terutama berkaitan dengan peninggalan-peninggalan masa lalu yang tak jua lekang ditelan jaman.

Daya tarik tersebut terutama berasal dari keunikan di dalamnya. Mulai jumlah kelenteng yang cukup banyak, budaya Tionghoa yang sangat kental, hingga tempat-tempat dengan nama unik.

Untuk yang terakhir, Cap Kauw King adalah salah satunya. Yaitu sebutan untuk sebuah area yang terletak antara perempatan Jalan Jagalan hingga Kelenteng Siu Hok Bio.

Cap Kauw King, sebutan untuk area antara perempatan Jagalan ini hingga Kelenteng Siu Hok Bio.

Karena lokasinya, kelenteng yang berada di ujung Gang Baru itu juga dikenal dengan sebutan Kelenteng Cap Kauw King. Begitu pula perempatan Jalan Jagalan, dikenal dengan sebutan Perempatan Cap Kauw King.

Dalam bahasa Tionghoa,  Cap Kauw King berarti “sembilan belas bangunan”. Ini merujuk kondisinya dulu, saat hanya ada sembilan belas rumah di kawasan itu. Rumah-rumah itu berderet di tepi Kali Semarang.

Menurut cerita, sebutan Cap Kauw King pertama kali dipakai oleh Tan Tiang Tjhing, warga Semarang yang meninggal pada 1851. Berkembangnya pemukiman membuat tempat ini sekarang menjadi lebih padat.

Rumah-rumah yang ada di sana bertambah banyak, tidak lagi berjumlah sembilan belas. Nama resminya pun bukan Cap Kauw King, tapi Jalan Wotgandul Timur. Meski begitu, masyarakat terlanjur terbiasa dengan sebutan lamanya, Cap Kauw King.

“Sekarang rumahnya ya sudah lebih dari sembilan belas,” kata Liem Gak Tjay, salah satu tokoh Pecinan Semarang, suatu ketika.

Cap Kauw King salah satu tempat pertama orang-orang Tionghoa membuka pemukiman di Pecinan Semarang. Bentuk bangunan yang tak beraturan, menonjol di sana-sini dan letaknya aneh, menjadi buktinya.

Menurut Liem Thian Joe dalam “Riwayat Semarang”, sejarah Cap Kauw King berawal saat orang-orang Tionghoa yang bermukim di Gedong Batu dipindah oleh VOC ke Semarang. Tujuannya agar di tempat barunya ini aktivitas orang-orang Tionghoa lebih mudah diawasi.

Rumah-rumah di Cap Kauw King dibangun secara tidak beraturan dan letaknya menjadi aneh.

Mereka dibebaskan membangun rumah di tempat-tempat yang disenangi. Dengan syarat, tempat-tempat tersebut masih dalam lingkungan yang sudah ditetapkan. Yaitu; sebelah utara, timur, dan selatan berbatasan dengan kali yang melingkar, dan sebelah barat berbatasan dengan sebuah tegalan (belakangan diberinama Beteng).

Orang-orang itu kemudian mendirikan rumah sekenanya saja, ada yang dari bambu dan sebagian dari papan. Karena tidak diatur, pendiriannya pun jadi kurang beres, sementara letak jalannya tidak bisa lurus.

Seperti jalan di Gang Baru, sebelah selatan sedikit lebar, sebelah utara sangat sempit. Demikian pula di Gang Pinggir dan Cap Kauw King, terdapat rumah-rumah yang tak beraturan dan letaknya aneh.HK

 

1 2

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares