Bhe Kun, Para Pembayar Kaul Pengawal Kuda Cheng Ho

Written by
HiomerahDi balik wajah lucunya, bhe kun memiliki makna sakral sebagai pembayar kaul. Ratusan orang pun bersedia melakoninya, meski harus berpanas-panas mengawal ‘kuda Laksamana Cheng Ho’. 

Masih tengah malam saat Tan Han Kok dan beberapa orang lainnya tiba di Kelenteng Tay Kak Sie. Tujuan mereka adalah sebuah ruangan besar yang terletak di samping kanan kelenteng.

Di situ, telah menunggu Mei Sugiyarni dan tujuh orang rekannya. Tak berapa lama, sebuah kesibukan terjadi di tempat yang berlokasi di Jalan Gang Lombok, Kota Semarang itu.

Satu persatu mereka berganti baju, seperti pakaian yang biasa dikenakan pendekar kungfu, dengan dominasi warna hitam. Pakaian ini mereka sewa dengan tarif Rp. 70.000 perhari.

Demi menjadi pengawal kuda Cheng Ho, para bhe kun rela dirias sejak tengah malam.

Kemudian oleh tangan-tangan Mei Sugiyarni dan perias-perias lainnya, wajah-wajah itu dirias sedemikian rupa. Bukan dengan bedak atau bahan perias wajah yang lazim, tapi dengan cat warna-warni. Hasilnya, wajah mereka menjadi coreng-moreng, mirip rupa punakawan dalam cerita pewayangan.

Dengan Tan Han Kok mendapat giliran dirias paling belakang, kesibukan itu usai bersamaan kumandang azan subuh. Mereka pun siap menjadi bhe kun, yang akan ikut dalam arak-arakan menuju Kelenteng Sam Poo Kong.

Minggu pagi itu memang bertepatan dengan Lak Gwee Ji Kauw, hari terakhir bulan keenam penanggalan Imlek. Hari di mana kedatangan Laksamana Cheng Ho di Semarang diperingati dengan ritual jut bio atau kirab yang sering disebut arak-arakan Sam Poo Besar.

Sudah menjadi tradisi di tanggal itu, Kelenteng Tay Kak mengarak kimsin Sam Poo Tay Djien dan dua pengawalnya menuju Kelenteng Sam Poo Kong di Gedong Batu. Sam Poo Tay Djien atau Sam Poo Kong adalah gelar kedewaan untuk Laksamana Cheng Ho.

Tan Han Kok dan para bhe kun lainnya bergabung dalam arak-arakan sebagai pengawal kuda Kongco Sam Poo Thay Djien. Kuda dimaksud adalah seekor kuda besar berwarna hitam, yang mereka sebut sebagai ‘jaran sam poo’.

Pembayar Kaul

Kuda Cheng Ho yang biasa disebut ‘jaran sam poo’ menjadi ‘tuan’ sehari untuk para bhe kun.

Dalam arak-arakan, selain berbagai atraksi dan kim sin Kongco Sam Poo Tay Djien sendiri, barisan bhe kun biasanya paling menarik perhatian khalayak. Pakaiannya yang serba hitam dan wajah coreng-moreng membuat mereka terlihat mencolok.

Namun di balik kelucuannya itu, keberadaan bhe kun memiliki makna sakral, sehingga ratusan orang setiap tahun bersedia dengan tulus hati melakoninya. Mereka adalah orang yang membayar kaul setelah terkabul permohonannya.

Ribut misalnya, berpuluh tahun menjadi bhe kun sebagai pembayar kesembuhannya dari berbagai penyakit yang diidapnya waktu kecil.

“Saya pernah sakit cacar air ndak sembuh-sembuh, terus muntaber juga,” ungkap perempuan tua bertubuh mungil ini.

Oleh orang tuanya kemudian Ribut kecil di-kweepang atau diakukan sebagai anak pada dewa yang bersemayam di Kelenteng Tay Kak Sie. Orang tuanya juga berujar, bila anaknya itu bisa sembuh, seumur hidupnya akan diserahkan sebagai bhe kun.

Sekarang, setiap kirab Sam Poo digelar, Ribut tidak hanya mengawal kuda, tapi juga merawat dan melayaninya. Perempuan yang suka ceplasceplos bicara ini, dengan tulus melakoni perannya, meski harus berjalan jauh, berpanas-panas, sambil memberi makan dan minum ‘sang jaran sam poo’.

Hal sama juga dialami Tio Hauw Liep yang menjadi bhe kun karena keinginannya mendapatkan anak perempuan terkabul. Demikian pula dengan Sandra, warga Kampung Jambe Malang, Kota Semarang, yang menjadi bhe kun setelah doa agar orang-tuanya disembuhkan dari sakit, dikabulkan.

Sebagai pembayar khaul mereka wajib menjaga dan merawat kuda Cheng Ho dalam arak-arakan Sam Poo Besar.

Ada juga anak kecil bernama Sandy Febriano, yang menjadi bhe kun bersama Edy, ayahnya, dan David, pamannya. Sandy ikut berjalan dari Kelenteng Tay Kak Sie ke Kelenteng Sam Poo Kong.

“Ini menjadi nadzar ibunya, setelah Sandy naik kelas,” jelas Edy.

Herning alias Oei Wei Koen mengaku rela berpanas-panas dan berdandan coreng-moreng juga demi membayar khaulnya.

“Ini sebagai ungkapan puji syukur saya. Anak saya yang pertama telah lulus dari sebuah universitas jurusan tehnik industri di Jerman dan yang kedua dari Universitas Atmajaya,” kata Herning.

Dengan  menjadi bhe kun, pengusaha kantin itu juga berharap agar anak-anaknya mendapat kesuksesan dalam hidupnya.

Para bhe kun tidak hanya mereka yang tengah membayar kaul, tapi juga mereka yang ingin harapannya terkabul. Ini dijalani Tan Han Kok alias Sugiarto, yang telah menjadi bhe kun lebih dari lima kali.

“Saya ingin anak saya yang menderita autis, sembuh,” ungkap warga Pamularsih, Semarang, itu.

Asli Semarang

Bhe kun sudah ada sejak lama, mungkin sama tuanya dengan sejarah arak-arakan Sam Poo Besar itu sendiri. Ia merupakan budaya asli Pecinan Semarang, tepatnya dari Kelenteng Tay Kak Sie.

Meski wajah coreng moreng dan terlihat lucu, makna sakral diperankan oleh orang-orang yang memilih menjadi bhe kun.

Meski begitu, riasan wajah bhe kun yang mirip tokoh punakawan merupakan tiruan opera Tiongkok.

Istilah bhe kun sendiri berasal dari bahasa Hokkian. Bhe’ berarti kuda dan ‘kun’ berarti pasukan. Terjemahan bebasnya menjadi pasukan pengawal kuda.

Bhe kun identik dengan pengawal kuda Cheng Ho karena pemahaman kalangan warga Tionghoa tentang pendaratan Laksamana Cheng Ho. Bahwa saat turun dari kapal, Cheng Ho selalu menunggang kuda dan tentu saja kemudian harus ada yang merawatnya.

Dengan pemahaman seperti itu, profesi perawat kuda tepat digunakan sebagai gambaran pengorbanan dan kesetiaan kepadanya.

Dalam perkembangannya, beberapa kelenteng menirunya. Bukan hanya untuk mengarak Kongco Sam Poo Tay Djien, tetapi juga dewa-dewa lain.

Misalnya pada perayaan ulang-tahun Kongco Tan Sing Ong di Kelenteng Wie Hwie Kiong, Jalan Sebandaran Semarang, atau Kongco Kwan Kong di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban.

Meski riasan wajah terinspirasi opera Tiongkok, bhe kun adalah budaya asli keturunan Tionghoa Semarang.

Saat perayaan di Kelenteng Wie Hwie Kiong, konon Kongco Tan Sing Ong bersedia naik di punggung kuda. Malam sebelumnya, umat telah memohon kesediaan Kongco lewat ritual pwak pwee. Saat kirab, kesediaan Kongco Gay Tjiang Seng Ong ditandai dengan kertas hu yang disilangkan di muka si kuda.

“Kesediaan Kongco juga bisa dilihat dari posisi kuda saat kirab. Bila berada di depan tandu pengangkut kimsin-nya, berarti Kongco bersedia naik,” jelas Kuswantoro, warga Boja yang pernah menghabiskan masa kecilnya di Pecinan Semarang. HK.

 

 

 

 

 

1 2 3 4 5

Article Tags:
Article Categories:
Warna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares