Berkunjung ke Rumah Besar Perintis Singkawang

Written by
Hiomerah – Lewat kerja keras, tanah tidur tak tergarap disulapnya menjadi perkebunan besar berkomoditi ekspor. Sisa kejayaannya sekarang bisa dilihat pada rumah peninggalannya yang masih terawat utuh di tengah Kota Singkawang.

Lebih satu abad yang lalu, datang ke daerah Singkawang, Kalimantan Barat, seorang petani muda dari Desa Jian Mei, Kabupaten Hai Cang, Propinsi Fujian, Tiongkok. Kelaparan hebat akibat bencana alam, memaksanya untuk meninggalkan tanah kelahirannya itu.

Sebelum sampai di Singkawang, Xie Shou Shi (Xie Zhong Shou, Xie Shou, Xie Feng Chen), nama petani itu, dan beberapa rekan sekampungnya, terdampar di Semenanjung Malaya. Di daerah yang sekarang menjadi bagian Malaysia itu, dia bekerja sebagai kuli pada sebuah keluarga kaya.

Namun nasib buruk lagi-lagi menimpanya ketika pecah peristiwa kerusuhan. Lari dari kerusuhan, dengan menggunakan perahu layar, Xie Shou Shi dan kawan-kawannya akhirnya tiba di Singkawang. Di daerah yang masih dikelilingi hutan belantara dan sedikit penduduknya inilah Shou Shi menemukan kejayaan.

Foto Xie Shou Shi dengan pakaian kebesaran tergantung di rumah besar peninggalannya. (Foto: hiomerah).

Mula-mula dia garap tanah subur yang waktu itu masih luas terhampar tak tersentuh. Ditanaminya dengan palawija, dan tanaman-tanaman lain yang bernilai ekonomis seperti karet, kelapa, dan buah-buahan.

Tak berapa lama lahan-lahan pertanian itu telah berubah menjadi perkebunan besar yang menyerap banyak tenaga kerja. Bahkan kemudian Shou Shi berhasil membangun sebuah armada untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan tersebut ke Singapura.

Tanah Belanda

Seiring berkembangnya usaha dan semakin ramainya daerah itu, Xie Shou Shi menjadi orang penting yang tersohor di masyarakat maupun pejabat setempat. Pada 1901 dia membangun sebuah rumah besar di atas tanah hibah dari pemerintah Belanda. Letaknya persis di pinggir sungai yang ia jadikan dermaga perahu-perahu pengangkut komoditas ekspornya.

Untuk membangun rumah tersebut, Shou Shi mendatangkan langsung seorang arsitek dari kampung halamannya. Teknologi arsitektur yang bercorak Timur dan Barat dikombinasikan dalam pembangunan rumah tersebut.

Hasilnya, berdiri sebuah rumah yang bentuknya mirip dengan Si He Yuan, bangunan khas Tiongkok Utara. Bagian-bagian rumah sebagian besar berbahan kayu, termasuk atap sirap yang dibuat dari belahan tipis kayu ulin.

Rumah besar yang menempati tanah sekitar 5000 meter persegi itu sekarang masih berdiri utuh di tengah Kota Singkawang. Bahkan menjadi salah satu cagar budaya sebagai bukti sejarah masuknya bangsa Tionghoa di Kota Singkawang.

Di depan rumah mengalir sungai besar yang dulu digunakan sebagai dermaga perahu-perahu pengangkut komoditi dagangnya. (Foto: hiomerah).

Beberapa waktu lalu Hiomerah mengunjungi rumah yang beralamat di Jalan Budi Utomo 36-37 ini. Letak rumah agak menjorok ke dalam di belakang deretan ruko. Sebuah sungai yang lumayan lebar, meski terlihat dangkal, mengalir di depan rumah tersebut. Saat pembangunan dulu, sungai ini dibendung dengan kokoh untuk mendukung fungsinya sebagai dermaga.

“Lewat sungai inilah, dulu armada dagang Xie Shou Shi, mengirim dan membawa barang-barang dagangan. Di sini pula bongkar muat barang dilakukan,” jelas Tjia Thiam Piang, keturunan Xie Shou Shi yang sekarang menjadi salah satu penghuni rumah besar itu.

Dua Bagian

Rumah kuno tersebut terdiri dari dua bagian utama, depan dan belakang, yang dipisahkan oleh sebuah taman bunga kecil. Bagian depan terdiri dua lantai, yang di pintu-pintunya dipenuhi ornament, ukiran, maupun kaligrafi Tionghoa berwarna emas. Tulisan “Bao Shu” tergantung di tengah-tengah ruangan lantai dua, diapit tulisan “Jing Xing” dan “Qing Yun” di kiri-kanannya.

Sementara di kiri kanan pintu lantai satu terdapat tulisan “Pei Lan” dan “Yu Zhu”. Ada pula tertulis “Ju Ren” dan “You Yi” di bagian belakang ruang depan. Di lantai ini juga tersusun satu set meja kursi yang berkesan sangat mewah dengan ukiran dan tatahan nirmala ala Tiongkok. Dulu, meja kursi tersebut digunakan untuk menerima tamu-tamu penting.

Menuju rumah bagian belakang, akan disambut tulisan “Jian Long” berwarna emas yang terpampang di tengah-tengah pintu masuk. Sementara ukiran mengkilap sepasang lian menghiasi dua sisi pintu. Begitu melangkah melewati pintu, terpampang sebuah altar abu leluhur, lengkap dengan lilin-lilin merah besar dan arca dewa-dewa. Ada foto besar Xie Shou Shi dengan pakaian kehormatan, menggantung di ruangan ini.

Bangunan unik di salah satu sudut rumah besar peninggalan Xie Shou Shie. (Foto: hiomerah).

Di sisi kanan kiri, maupun belakang dua bagian utama rumah itu, berderet belasan ruangan kecil, membentuk letter U. Antara ruangan-ruangan itu dengan bangunan utama rumah dipisahkan oleh taman dan koridor agar bebas dari sengatan matahari dan curah hujan.

Menariknya, di kedua sisi koridor itu dihiasi ornamen berbagai corak yang menciptakan pemandangan mempesona. Di ruangan-ruangan kecil yang dengan bangunan utama dipisahkan oleh taman dan koridor itulah, Tjia Thiam Piang dan keturunan Xie Shou Shi lainnya saat ini tinggal.

“Sekarang 14 keluarga atau sekitar 60 orang tinggal di sini,” jelas Thiam Piang.

Generasi Ketujuh

Menurut Piang, anak-cucu Xie Shou Shi itu berasal dari generasi keempat hingga ketujuh. Mereka ini adalah sebagian dari keturunan Xie Shou Shi lainnya yang sekarang telah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, bahkan Singapura, Hongkong, dan Tiongkok.

Bagian rumah di lantai 2 ini sekarang didiami oleh keturunan ke-4 hingga ke-7 Xie Shou Shi. (Foto: hiomerah).

“Keturunan generasi ketiga sebenarnya masih ada, tapi tinggal di Jawa,” imbuh Tjia Khun Nyan, keturunan Xie yang lain.

Saat ini, keturunan Xie Shou Shi, juga rumah besar peninggalannya, bernaung dan dikelola oleh yayasan keluarga, Yayasan Tjhia Hiap Seng. Wadah ini sebenarnya sudah berdiri pada 1982, namun baru mengukuhkan dewan pengelolanya pada 2002 berbarengan dengan peringatan 101 tahun berdirinya rumah tersebut.

“Nama yayasan kami ambil dari nama kongsi dagang Xie Shou Shi dulu,” jelas Tjia Khun Lim keturunan yang lain.

Setiap Sincia atau Cap Go Meh, sekitar 200 orang keturunan pengusaha yang meninggal pada 1923 itu, berkumpul di rumah besar. Selain untuk melepas kangen, acara rutin itu bertujuan untuk memperkuat tali persaudaraan.

“Dengan harapan anak cucu akan berbakti dan mentaati wejangan leluhur dan meneruskan dan mengembangkan tradisi maupun prestasi yang lebih cemerlang,” demikian tulis Dewan Pengelola Dana Rumah Leluhur Xie Xie Sheng. HK.

 

 

 

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares