Batu Ciswak Penangkal Arwah Gentayangan di Pecinan Semarang

Written by
HiomerahDemi pembangunan kota, sebuah kuburan kuno harus dipindahkan dari Kota Semarang. Batu bertulis mantra kemudian didirikan di bekas kuburan itu, agar para arwah tidak mengganggu.

Batu berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 100 cm x 20 cm itu menempel di dinding kanan Toko Besi Sinar Harapan Abadi, Jl. Pekojan 42, Kawasan Pecinan Semarang. Keberadaannya terkesan kurang mendapat perhatian meski terlihat mencolok dengan torehan cat warna merah. Seringkali, ia harus berbagi tempat dengan berbagai tempelan poster komersil di dinding tersebut.

Tak banyak yang tahu bila batu bertoreh huruf-huruf kanji Tiongkok itu menyimpan sejarah perkembangan Pecinan Semarang. Dia adalah saksi pemindahan sebuah pemakaman Tionghoa demi perluasan pemukiman penduduk.

Cerita tentang batu itu bermula pada akhir 1700-an. Saat itu perkembangan Kota Semarang semakin pesat, tak terkecuali kawasan pecinannya.

Untuk mendukung kemajuan kota, VOC ((Verenigde Oost Indische Compagnie, sering disebut Kompeni) melakukan beberapa penataan jalan dan kawasan. Salah satunya kawasan di sekitar Kampung Koja atau yang sekarang dikenal dengan nama Pekojan.

Waktu itu, meski baru ada beberapa rumah, jalan di depan Kampung Koja menuju ke Loji atau Benteng de Vifhoek sudah mulai ramai. Namun sebelah utara tempat itu masih berupa tegalan yang di pinggir dan di tengahnya terdapat beberapa kuburan Tionghoa.

Makam itu diduga sebagai kuburan paling kuno yang ada di Semarang. Orang-orang menganggap kuburan itu telah berpuluh-puluh tahun tuanya. Kemungkinan kuburan orang-orang Tionghoa saat mereka masih tinggal di sekitar Gedong Batu.

Menurut Liem Thian Joe dalam ‘Riwayat Semarang’, kuburan-kuburan itu dibuat dari batu yang tidak diukir. Demikian pula bongpay-nya, berupa batu biasa yang tidak dipahat, sehingga tidak bisa menunjukkan kapan kuburan itu dibuat.

Suasana sebuah makam Tionghoa di Semarang pada tahun 1800an.

Kompeni melihat jalan yang menembus ke Loji bakal menjadi bagian penting dari kemajuan Kota Semarang. Mereka lalu mengajukan permohonan kepada pimpinan masyarakat Tionghoa Semarang, Kapiten Tan Jo Sing, agar kuburan kuno itu dipindahkan. Dalam rencana Kompeni, tegalan tersebut akan dipakai untuk pemukiman penduduk.

“Pemindahan kuburan itu juga bertujuan agar kawasan yang terkesan angker dan banyak begalnya itu menjadi ramai,” kata Liem Gak Tjay (alm), salah satu tokoh Pecinan Semarang, seperti  dikutip Majalah Liberty beberapa waktu lalu.

Kapiten Tan Jo Sing lalu merundingkan permohonan tersebut dengan Letnan Souw Bing Gi dan letnan-letnan lainnya. Kepada masyarakat diumumkan, siapa yang menjadi ahli  waris kuburan-kuburan itu supaya memberitahu Kapiten. Namun ketika beberapa bulan kemudian tidak ada yang melapor, pimpinan masyarakat Tionghoa Semarang mengambil keputusan memindahkan kuburan itu ke tempat lain.

Seorang ahli hongshui diminta mencarikan tempat yang baik untuk kuburan baru itu. Ahirnya dipilih tempat di kaki Gunung Candi, di wilayah Randusari atau Gergaji sekarang. Wilayah ini masih berupa bulakan atau tegalan terbuka.

Saat hari yang baik untuk pemindahan tiba, kuburan satu persatu digali. Peristiwa tersebut kira-kira terjadi pada tahun Ke Khing ke-dua atau sekitar 1797 Masehi.

Foto kuno yang memperlihatkan kawasan Pecinan Semarang pada masa kolonial Belanda sekitar 1890.

Sebuah upacara sembahyangan yang dipimpin beberapa hweesio dilakukan sebelum penggalian. Karena peti matinya telah hancur, tulang-belulangnya dimasukkan ke dalam beberapa guci. Kemudian guci-guci itu diangkut dan dikubur ke dalam dua lubang di tempatnya yang baru.

Oleh para officer dan orang-orang Tionghoa yang paham, dua kuburan baru itu dibuatkan bongpay. Di atas batu nisan ini dipahatkan tiga huruf berbunyi Tong Koei See (tempat bersama-sama pulang). Tulisan ini dibuat karena nama-nama orang yang dikubur di tempat itu tidak diketahui.

Kuburan tersebut sekarang berada sebelah utara Kebon Gergaji dan dikenal dengan sebutan Bong Bunder atau Bong Kaulan. Disebut Bong Bunder karena sepasang kuburan besar itu bentuknya bundar. Disebut Bong Kaulan karena banyak sekali orang Tionghoa yang membayar kaul di kuburan itu.

Setiap malam che-it (tanggal satu), cap gouw (tanggal limabelas), atau hari Jum’at, banyak orang yang menyepi di samping kuburan itu untuk meminta berkah. Begitu pula pada siang hari, tidak sedikit yang bersembahyang.

Sementara itu, di tegalan menuju Loji ditegakkan sebuah tanda kias atau batu ciswak. Batu yang dipasang mirip tugu peringatan tersebut berpahatkan tulisan berbunyi Lam Bu O Mi Too Hut Kiat An. Kata-kata dari mantra Buddha tersebut bila diterjemahkan kurang lebih berarti ‘menyempurnakan arwah yang telah meninggal’.

Mantera Buddha yang berarti “menyempurnakan arwah yang telah meninggal’ yang ditanam di sebuah tembok rumah di Jalan Petolongan.

“Intinya untuk tolak bala agar daerah bekas kuburan itu tidak mendapat gangguan roh halus,” jelas Gak Tjay.

Ketika rumah-rumah banyak berdiri di tempat itu, batu ciswak atau tolak bala di atas jadi terdesak. Meski begitu, sampai sekarang masih dapat ditemui di ujung barat Jalan Petolongan atau persis di depan Masjid Jami’ Pekojan, menempel di dinding toko besi di atas. HK.

 

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares