Bah Kacung, Pelopor Tahu Kediri yang Bertahan Karena Resep Kuno

Written by
HiomerahTahu memang telah menjadi makanan populer yang bisa ditemui di mana saja di nusantara. Namun julukan kota tahu tetap disematkan untuk Kota Kediri.

Di Kota Kediri terdapat banyak sekali perusahaan tahu berskala menengah yang berkembang pesat. Bahkan, puluhan industri tahu tanpa merek tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Maka tidaklah berlebihan jika Kota Kediri menyandang predikat Kota Tahu.

Tengok saja Jalan Yos Sudarso dan Jalan Pattimura. Sepanjang tepiannya dipenuhi kios tahu dengan merek ternama seperti LYM, POO, Pong, Surya, LTT, Mickey Mouse, LTH, Panglima, dan Hayam Wuruk.

Lahirnya industri tahu di Kota Kediri tidak lepas dari peran sentral Lauw Soen Hok atau yang lebih dikenal dengan nama Bah Kacung. Dialah perintis usaha pembuatan tahu pong, sebutan untuk tahu putih, dan tahu takwa, sebutan untuk tahu kuning, yang tersohor hingga di luar Jatim.

Herman Budiono, generasi ketiga penerus industri tahun Bah Kacung

Rumah tinggalnya di Jalan Trunojoyo di pecinan kota lama Kediri menjadi saksi sejarah perjalanan industri tahu sejak 1912. Rumah yang menjadi tempat produksi sekaligus ruang pamer tahu Bahkacung itu tetap berdiri kokoh, dengan fondasi semangat juang yang terus dilestarikan hingga memasuki generasi ketiga.

Herman Budiono (51) yang menjadi generasi ketiga penerus Bah Kacung mengungkapkan salah satu kelebihan tahu Bahkacung yang tidak dimiliki oleh perusahaan tahu di Kota Kediri adalah kesetiaannya dalam menjaga kualitas rasa dengan mempertahankan penggunaan bahan alami, termasuk penggunaan produk lokal terutama kedelai.

Tidak hanya itu, proses produksi pun bertahan dengan alat tradisional dan tidak pernah tergoda untuk beralih pada teknologi modern yang bertumpu pada mesin.

Sangatlah wajar jika harga tahu Bahkacung sedikit lebih mahal dibandingkan dengan tahu yang diproduksi perusahaan lain. Bahkan, sampai sekarang belum ada satu pun perusahaan tahu di Kota Kediri yang bisa menyaingi dari segi kualitas.

Toh demikian, bukan berarti Bah Kacung tetap harus menghadapi persaingan usaha yang makin ketat.

“Meneruskan usaha warisan keluarga secara turun-temurun bukanlah perkara mudah. Apalagi jika harus menyandang nama besar. Pertaruhannya tinggi. Sedikit saja kurang cermat dalam melangkah, semua perjuangan selama bertahun-tahun menjadi sia-sia,” kata Herman.

Selain kecermatan, kelihaian membaca peluang pasar juga menjadi kunci sukses menghadapi persaingan usaha. Apalagi menghadapi pemain baru dan impitan kekuatan ekonomi dengan kapital besar.

Beberapa peristiwa politik ekonomi turut member andil bagi pasang surut industri tahu. Krisis ekonomi 1997 memberi pukulan telak bagi pelaku usaha tahu. Kemudian pada 2007, isu makanan berformalin juga membuat penjualan menurun drastis. Berikutnya, giliran harga kedelai yang melonjak tajam tidak menentu. Bahkan hingga, kini ketidakstabilan harga kedelai masih menyisakan masalah bagi pengusaha.

Ditambah, awal tahun ini dunia dihantam pandemic covid-19 yang membuat semua lini usaha berhenti untuk beberapa waktu.

Herman berharap situasi akan kembali membaik dan industri tahu akan lebih baik. Ia tetap optimis karena telah mempelajari seluk-beluk bisnis tahu mulai dari pemilahan bahan baku, proses produksi tahu, hingga menangani karyawan dan pemasaran produk.

“Usaha keluarga yang dijaga dari generasi ke generasi menjadi laboratorium tempat saya menempa diri,” katanya.

“Saya ingin usaha tahu Bahkacung tetap eksis, bahkan bisa berkembang lebih besar lagi. Saya sudah punya rencana untuk itu,” pungkasnya.//cw

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Ragam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares