Ba De Miao, Kelenteng Khonghucu Kedua di Surabaya yang Melayani Umat Lain

Written by
HiomerahSiang itu, bersama istri tercinta, Gatot Seger Santosa berkunjung ke Kelenteng Ba De Miao. Wajahnya terlihat sumringah, menyiratkan perasaan lega. Tempat ibadah yang pembangunannya ia pimpin, akhirnya selesai juga.

“Peletakan batu pertamanya sudah mulai November 2017. Persoalan dana membuat pembangunannya agak lambat,” kata Gatot saat ditemui Hiomerah di Ba De Miao, Minggu lalu.

Sebenarnya yang menjadi ketua pembangunan adalah Sindunata Sambudhi. Namun saat proses pembangunan baru dimulai, bos PT Hakiki tersebut jatuh sakit. Walhasil, Gatot dan panitia pelaksana yang lain, di antaranya Handoko Tjokro, mengambil alih koordinasi pembangunan.

Kelenteng Ba De Miao merupakan tempat ibadah Agama Khonghucu kedua di Surabaya setelah Kelenteng Boen Bio. Lokasinya berada di Royal Residence, perumahan mewah di daerah Wiyung, Surabaya Barat.

Berada di lantai 2, altar utama menjadi singgasana tuan rumah Ba De Miao, Nabi Khongzi.

Terdiri 2 lantai, Ba De Miao berada satu komplek dengan tempat ibadah 5 agama lain. Yaitu Masjid Muhajirin, Gereja Katolik Kapel Santo Yustinus, Gereja Kristen Protestan GKI Royal Residence, Vihara Budhayana Royal Residence, dan Pura Sakti Raden Wijaya.

Enam tempat ibadah tersebut berdiri di atas tanah fasum seluas 3500 M2 milik Royal Residence yang dihibahkan ke Pemkot Surabaya. Oleh Pemkot kemudian dihibahkan lagi ke Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

“Enam tempat ibadah dalam satu lokasi ini sebagai simbol kerukunan antar umat beragama. Kelenteng Ba De Miao yang pembangunannya selesai paling terakhir,” ujar Gatot.

Ornamen segi 8 berisi ajaran 8 moral kebajikan Khonghucu.

Pada Selasa, 13 Oktober, lalu, Ba De Miao diresmikan. Tanggal tersebut bertepatan dengan kalender Imlek 27  Peh Gwee (bulan 8) 2571, saat Nabi Khongzi diperingati hari kelahirannya.

Nama Ba De Miao terinspirasi oleh ajaran Khonghucu tentang 8 moral kebajikan. Ba De dalam istilah Tionghoa berarti 8 kebajikan. Jadi, Ba De Miao artinya Kelenteng 8 Kebajikan.

Ajaran-ajaran tersebut ditulis dengan huruf kanji Tiongkok dalam ornamen berbentuk segi 8 berwarna merah  yang dipasang di kanan dan kiri 3 pintu utama. Tampak mencolok, menarik perhatian siapa saja yang berjalan memasuki kelenteng.

Ornamen segi 8 yang di sebelah kanan berdekatan dengan prasasti pendirian kelenteng. Ditandatangani Ketua MAKIN Boen Bio, Js. Handoko Tjokro, prasasti ini menggunakan 2 bahasa, Indonesia dan Mandarin. Bunyinya; “Puji Syukur Kehadiran Tuhan Yang Maha Kasih Atas Diresmikannya Tempat Ibadah Agama Khonghucu Kelenteng 8 Kebajikan Ba De Miao”.

Di atas pintu utama tengah, terdapat tulisan yang menunjukkan identitas kelenteng. Sebuah tulisan dengan huruf kanji Tiongkok warna emas di atas papan kayu warna hitam, berbunyi ‘Ba De Miao’.

“Papan nama ini disumbang oleh Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya, Gu Jingqi,” ujar pemilik nama Tionghoa, Zhou Liyue, itu.

Kongco Hok Tik Cing Sin berdampingan dengan Kongco Kwan Kong di altar sebelah kiri altar utama.

Identitas kelenteng juga ditunjukkan oleh papan nama dari kayu berwarna coklat. Bertulis huruf latin warna merah, berbunyi ‘Kelenteng Khonghucu Delapan Kebajikan – Surabaya’.

Dari arah depan, Ba De Miao terlihat gagah oleh 4 pilar penyangga dengan ornamen naga raksasa. Ornamen naga juga terdapat di atap kelenteng, berupa 2 ekor naga yang sedang memperebutkan bola berapi.

Ba De Miao menjadi satu-satunya kelenteng yang berdiri di kawasan Surabaya barat. Meskipun sebagai kelenteng Khonghucu, Ba De Miao tidak hanya melayani umat agama ini.

Menurut Gatot, Ba De Miao didirikan juga untuk memenuhi kebutuhan sembahyang umat lain. Khususnya warga Tionghoa tradisional yang tinggal di kawasan Surabaya barat.

“Ba De Miao didirikan salah satunya untuk melayani umat Tionghoa tradisional yang selama ini bersembahyang di kelenteng-kelenteng tradisional di Surabaya,” papar Gatot, yang juga menjadi pengurus di Kelenteng Boen Bio itu.

Untuk melayani umat, Ba De Miao memiliki beberapa altar pemujaan dewa atau para sin bing. Altar-altar tersebut berada di lantai 2.

Altar utama ditempati Nabi Khongzi, yang menunjukkan identitas Ba De Miao sebagai kelenteng Khonghucu. Nabi Khongzi yang diwujudkan dalam sebuah arca lumayan besar juga terdapat di lantai 1. Berdiri lurus dengan pintu utama, keberadaannya seakan menyambut kedatangan tamu kelenteng.

Beranda lantai 2 Kelenteng Ba De Miao, tempat hiolo untuk memuja Thian berada.

Di samping kanan altar tuan rumah di lantai 2, terdapat altar Makco Thian Siang Sing Bo dan Dewi Kwan Im Nio Nio. Kemudian di samping kiri altar utama, berdiam Kongco Hok Tik Cing Sin. Sang Dewa Rejeki berdampingan dengan Kongco Kwan Kong atau Kwan Sing Tee Kun, panglima perang yang dikenal sebagai Dewa Kejujuran.

“Kongco Kwan Kong dipuja di sini karena dia banyak mengamalkan ajaran khonghucu, salah satunya bersifat setia yang termasuk salah satu dari 8 moral kebajikan,” kata Gatot.

Menurut Gatot, sebelum menempati altar, 4 kimsin dewa tersebut telah disemayamkan di 4 kelenteng berbeda selama kurang lebih 2 bulan. Setiap kimsin disemayamkan di kelenteng yang memiliki dewa utama yang sama dengan dirinya.

Kimsin atau arca suci Dewa Kwan Kong disemayamkan di tempat pemujaan Kongco Kwan Kong Kelenteng Hiap Thian Kiong Mojosari. Kemudian kimsin Kongco Hok Tik Cing Sin disemayamkan di kelenteng pemujaan Sang Dewa Bumi, Kelenteng Hok Swie Bio Bojonegoro.

Selanjutnya kimsin Kwan Im Nio Nio disemayamkan di tempat pemujaan Dewi Kwan Im di Pamekasan, Vihara Avalokitesvara. Sedangkan kimsin Makco Thian Siang Sing Bo disemayamkan di kelenteng pemujaan Sang Dewi Samudra, Tjong Hok Kiong Sidoarjo.

Setelah 2 bulan di 4 kelenteng itu, kimsin-kimsin tersebut kemudian berkumpul di Boen Bio. Selanjutnya bersama kimsin Nabi Khongzi, mereka diantar ke tempatnya yang baru, Kelenteng Ba De Miao.

Salah satu kimsin, Kongco Hok Tik Cing Sin, saat tiba di Ba De Miao.

Pemindahan ke tempatnya yang baru tersebut sekaligus menjadi momen peresmian kelenteng. Ritual sembahyang Khonghucu yang menjadi bagian dari upacara peresmian dipimpin oleh Bunshu Bingky Irawan, tokoh Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN).

“Jadi, Nabi Khongzi sebagai tuan rumah Ba De Miao diiringi para sinbing memasuki tempatnya yang baru ini,” pungkas Gatot. HK

1 2 3 4 5

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares