Antara Gus Dur dan Panglima Demak Tan Kim Han

Written by
HiomerahAda satu hal lagi yang selalu diingat oleh warga Tionghoa di Indonesia tentang sosok Gus Dur. Ia pernah pernah mengaku sebagai keturunan Tionghoa.

Rabu, 10 Maret 2004, Gus Dur menerima penobatan sebagai “Bapak Tionghoa” dari masyarakat Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie.

“Saya mau dijadikan apa saja tidak ada masalah. Bahkan mau dijadikan penjaga pun tidak apa-apa. Apalagi saya juga keturunan etnis Tionghoa dari marga Tan,” kata Gus Dur yang waktu itu mengenakan baju cheongsam, baju kebesaran Tionghoa.

Tidak sekali itu saja Gus Dur menyatakan sebagai keturunan Tionghoa. Dalam beberapa kesempatan suami Shinta Nuriyah itu menyebut hal yang sama.

“Saya ini Cina tulen sebenarnya, tapi ya sudah nyampur dengan Arab dan India. Nenek moyang saya orang Tionghoa asli,” ungkap Gus Dur dalam talkshow “Living in Harmony The Chinese Heritage in Indonesia” di Mal Ciputra, Jakarta Barat, awal 2008.

Gus Dur menjelaskan dirinya adalah keturunan Putri Campa yang menjadi selir Raja Majapahit, Brawijaya V.

“Putri Campa itu lahir di Tiongkok, lalu dibawa ke Nusantara,” jelas pemilik nama panjang KH. Abdurrahman Wahid itu.

Dari perkawinannya dengan Brawijaya V, Putri Campa mempunyai dua anak. Anak pertama laki-laki bernama Tan Eng Hian dan anak kedua perempuan bernama Tan A Lok.

Tan Eng Hian mendirikan Kerajaan Demak dan akhirnya berganti nama menjadi Raden Patah. Tan A Lok menikah dengan Tan Kim Han, seorang ulama muslim keturunan Tionghoa.

Tan Kim Han berperan dalam menggulingkan Kerajaan Majapahit dan ikut mendirikan Kerajaan Islam Demak. Dalam beberapa kesempatan, Gus Dur secara eksplisit mengaku sebagai keturunan tokoh ini.

“Dari sana keturunannya,” ujar laki-laki kelahiran Jombang, 7 September 1940 itu.

Beberapa sumber menyebut, tokoh Tan Eng Hian yang disebut Gus Dur sama dengan Tan Kim Han. Penelitian yang dilakukan peneliti dari Perancis, L.C.H Damais, di Makam Troloyo, mengidentifikasi Tan Kim Han sebagai Syekh Abdul Qodir “Al-Shini” (Syekh Abdul Qodir dari “China”).

Gus Dur mengenakan baju cheongsam saat akan menerima gelar sebagai Bapak Tionghoa Indonesia.

Pada 2003, Gus Dur pernah diundang untuk meresmikan monumen Tan Kim Han di Tiongkok. Berdasar catatan Chizai Fang Jiapu, Tan Kim Han yang lahir pada 1383 M, dalam rentang 1405-1433 M ikut bersama Laksamana Cheng Ho berkunjung ke Lambri-Aceh.

Tan Kim Han mungkin tertarik terhadap komunitas Muslim di sana, memutuskan tinggal, dan menikahi wanita setempat. Keturunan Tan Kim Han kemudian berkembang menjadi keluarga berpengaruh di komunitas Muslim di Lambri hingga Jawa Timur.

Dalam wawacara dengan penulis buku ‘Arus Cina Islam Jawa’, Sumanto Al Qurtuby, Gus Dur menyebut Tan Kim Han atau Abdul Qodir Al-Shini adalah duta besar Tiongkok. Bersama Maulana Ishak dan Sunan Ngudung, dia diangkat sebagai panglima perang Demak saat terjadi penyerbuan ke Majapahit.

Sejarah mencatat, pada 1478 M, balatentara Kesultanan Demak yang dipimpin Jin Bun (Raden Patah) menggempur Majapahit. Penyerbuan yang didukung penuh oleh Wali Songo, berhasil merebut Trowulan, ibukota Majapahit. Sementara penguasa Majapahit, Kertabumi, melarikan diri ke arah timur Pulau Jawa.

“Sebuah pertempuran yang telah merenggut beberapa nyawa tokoh Islam penting; Sunan Ngudung (ayah Sunan Kudus) serta panglima Cina Muslim Tan Kim Han,” demikian tulis Sumanto dalam ‘Arus Cina Islam Jawa’.

Berdasar penelitian yang dilakukan Damais, Tan Kim Han dimakamkan di Komplek Makam Troloyo, Trowulan, Mojokerto. Masih satu kompleks dengan makam Putri Campa dan Raja Brawijaya V.

Makam Sjech Abdulkadir Djaelani Sini yang diidentifikasi sebagai makam Tan Kim Han di Komplek Troloyo.

Makam Tan Kim Han berada di sebuah kelompok makam yang oleh orang-orang disebut Kubur Telu atau Makam Tiga. Sesuai namanya, ada tiga nisan dengan papan nama berbeda di kelompok makam berpagar putih tersebut. Dari papan namanya terbaca Sjech Abdulkadir Djaelani Sini, Sjech Muolono Sekah, dan Sjech Muolono Ibrahim.

Lokasi Kubur Telu tidak jauh dengan makam Sunan Ngudung yang bentuknya sangat panjang. Makam Sunan Ngudung terletak di belakang bangunan besar makam Syekh Djumadil Kubro. HK

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares