Adipati Oei Ing Kiat, Pimpinan Rakyat Lasem Melawan Kompeni

Written by
HiomerahDengan gagah berani, Oei Ing Kiat memimpin rakyat Lasem melawan Kompeni. Untuk menghormati jasanya, masyarakat Lasem membangun Kelenteng Babagan dan menjadikan dirinya sebagai dewa utama.

Ketika masih menjadi daerah kadipaten, Lasem, sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa-Tengah, pernah diperintah oleh seorang adipati Tionghoa. Dia adalah Oei Ing Kiat, yang memerintah Lasem dari 1727 sampai 1745 dengan gelar Tumenggung Widyadiningrat.

Satu abad sebelumnya, Lasem juga pernah diperintah oleh seorang adipati Tionghoa bernama Cik Go Ing yang bergelar Tumenggung Mertoguno. Namun peranan Oei Ing Kiat dalam melawan Kompeni, membuatnya lebih populer dari Cik Go Ing.

Dalam ‘Sejarah Lasem’, sebuah catatan sejarah berdasar ‘Sabda Badra Santi’, disebutkan, Oei Ing Kiat diangkat menjadi Adipati Lasem oleh Susuhunan Pakubuwono II pada 1727. Dia menggantikan Tejokusumo V, yang mengundurkan diri sebagai adipati.

Pengunduran diri Tejokusumo merupakan sikap ketidaksetujuannya terhadap tindakan Susuhunan yang menjalin hubungan erat dengan Kompeni. Sikap Tejokusumo V ini dipicu oleh tindakan Kompeni yang menyerang Lasem pada 1679 dalam upaya mendapat monopoli  perdagangan di seluruh pantai utara Jawa.

Kelenteng Babagan, dibangun untuk menghormati perjuangan Oey Ing Kiat dan dua saudara angkatnya. (Foto: hiomerah).

Sebagai pengganti Tejokusumo V sebenarnya telah dipersiapkan Raden Panji Margono, putranya sendiri. Namun Panji Margono lebih memilih menjadi pengusaha pertanian dan pelayaran. Akhirnya jabatan adipati diserahkan kepada Oei Ing Kiat, sahabat karib Panji Margono.

Oei Ing Kiat adalah seorang pengusaha pelayaran beragama Islam pemilik banyak jung dan perahu antar pulau. Dia adalah keturunan Bi Nang Oen, salah satu jurumudi armada Laksamana Cheng Ho. Bi Nang Oen juga disebut sebagai pujangga dari Campa dan penyebar agama Islam di Lasem awal abad XV.

Sekitar 1741, Lasem banyak didatangi para pengungsi Tionghoa dari berbagai daerah, termasuk Batavia. Ini menyusul terjadinya banyak kerusuhan yang dipicu peristiwa pembantaian ribuan orang Tionghoa di Batavia oleh Kompeni pada 1740.

Oei Ing Kiat kemudian mengajak Panji Margono ono untuk melindungi para pengungsi tersebut. Sebuah ajakan yang disambut hangat oleh Panji Margono karena kebenciannya terhadap Kompeni. Untuk menampung pengungsi, Oey Ing Kiat menguruk Rawa Sambong dan Narukan di barat Lasem.

Para pengungsi Tionghoa dan warga Lasem kemudian sepakat melawan Kompeni. Mereka mengangkat Oei Ing Kiat, Panji Margono, dan Tan Kee Wie, sebagai pimpinan perlawanan. Nama terakhir adalah pendekar kungfu, sekaligus pengusaha tambak ikan dan pembuat ubin yang gemar berderma untuk fakir miskin.

Ketiga pemimpin perlawanan itu kemudian melakukan upacara angkat saudara. Raden Panji Margono menyamar sebagai seorang Tionghoa bernama Tan Pan Ciang. Dalam beberapa sumber sejarah, Panji Margono dan Oei Ing Kiat juga sering disebut sebagai Encik Macan dan Muda Tik.

Relief di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Rembang yang menggambarkan pertempuran pasukan Tionghoa-Jawa melawan Kompeni. (Foto: istimewa).

Serangan pertama dilakukan terhadap tangsi Kompeni di Rembang dan Juwana. Dalam penyerangan ini, Tan Kee Wie memimpin pasukan lewat laut, sedang Oei Ing Kiat dan Panji Margono melalui darat. Serangan pertama yang berhasil gemilang ini juga dibantu oleh pasukan Tionghoa dan Jawa dari Purwodadi.

Setelah tangsi Juwana takluk, mereka menyerang Jepara. Kota di ujung utara Jawa ini digunakan sebagai batu loncatan untuk menyerang Semarang. ‘Babad Tanah Jawa’ menyebut, dalam peperangan yang sering disebut Perang Godo Balik ini, Encik Macan dan Muda Tik menjalin kerjasama dengan Adipati Grobogan, Tumenggung Martopuro.

Menurut Sigit Witjaksono, sesepuh masyarakat Tionghoa Lasem, setelah menyerang Semarang, pasukan Oei Ing Kiat dapat dipukul mundur oleh Kompeni. Dalam gerak mundur ini, Panji Margono dan Oei Ing Kiat tewas terkena peluru Belanda di Tanjung Mondoliko, dekat Welahan.

Nuansa mistis mengiringi  cerita tewasnya dua pahlawan Lasem tersebut. Setelah mereka gugur, Tan Kee Wei bermimpi melihat 2 batang kayu di Kali Juwana yang tidak bisa diambil oleh siapapun. Hanya dia yang mampu mengambilnya dan kemudian mengukirnya menjadi patung Tan Pan Jiang dan Oei Ing Kiat.

Cerita ini berbeda dengan di ‘Badra Santi’. Dalam versi ini, yang tewas di Mondoliko adalah Tan Kei Wei sendiri. Disebutkan pula, sebagai penghormatan atas dirinya, dibuat sebuah prasasti batu granit yang ditempatkan di Batok Mimi, sebelah kiri muara Sungai Paturen.

Oei Ing Kiat sendiri seusai perang dicopot kedudukannya oleh Sunan Pakubuwono II. Gelar tumenggung juga dicopot dan pangkatnya diturunkan menjadi Mayor. Kompeni yang tidak tahu keterlibatan Oei Ing Kiat dalam peperangan, menganggapnya telah gagal mengontrol warga Lasem. Sebagai gantinya diangkat Suroadimenggolo III.

Ketika Raden Panji Suryokusumo dan Raden Panji Suradilogo, putra Raden Panji Sumilir, sesepuh Lasem, melawan Suroadimenggolo dan Kompeni pada 1750, Oei Ing Kiat dan Panji Margono turut membantu dua bangsawan tersebut.

Panji Margono akhirnya tewas dalam pertempuran di Narukan dan Karangpace. Demi mendengar sahabatnya ini tewas, Oei Ing Kiat mengamuk dengan pedang Naga Gak Sow Bun-nya. Namun karena kurang waspada, dia juga tewas dan dimakamkan di puncak Gunung Bugel.

Sahabat dan saudara angkat Oei Ing Kiat, Raden Panji Margono, juga dihormati di Kelenteng Babagan, dengan altar khusus. (Foto: hiomerah).

Oei Ing Kiat meninggalkan beberapa istri, salah satunya putri Bupati Tuban. Dari istri ini dia mendapatkan 3 putra; Sudana, Suparing, dan Sudriyah. Sudana menjadi asisten lurah di Warugunung dan saudaranya yang lain beranak pinak di daerah Gunung Bugel.

Untuk menghormati jasa-jasa Oei Ing Kiat dan dua saudara angkatnya, pada 1780 masyarakat Lasem mendirikan kelenteng di Babagan. Kelenteng ini diberi nama Gie Yong Kong Co yang berarti Kakek Nan Gagah Perkasa. Patung Tan Pan Ciang dan Oei Ing Kiat menempati altar utama kelenteng. HK

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares